Wisata Hutan Pinus Winong Malang yang eksotis

Uncategorized

Di liburan panjang semacam ini, rasanya tempat wisata terus menjadi ramai saja. Jika telah begini, aku jadi lebih selektif memilah tempat wisata. Aku tidak ingin liburan, waktu aku cuma habis di jalur sebab terjebak kemacetan. Makanya, aku lebih memilah berjalan- jalan ke arah selatan Kota Malang. Tepatnya, ke daerah Wajak.

Di mari, terdapat banyak wisata berbasis hutan pinus yang sangat menarik. Saking banyaknya, aku hingga bimbang memilah yang mana. Kesimpulannya, sehabis berdiskusi dengan rekan yang menemani ekspedisi, kami setuju buat mendatangi Hutan Pinus Winong.

Hutan ini terletak tidak jauh dari Pasar Wajak. Sayangnya, jalur yang mengarah tempat wisata ini tidak sangat baik. Aku wajib berjaga- jaga dikala mengendarai motor supaya tidak selip akibat tanah yang masih gembur. Terlebih, hujan baru saja turun semalaman. Walaupun demikian, dikala kami sudah menciptakan tulisan pintu masuk mengarah hutan ini, kami langsung bergairah.

Semangat kami terus menjadi memuncak sebab kami cuma butuh membayar tiket parkir dengan harga 5. 000 rupiah masing- masing motor. Tanpa banyak basa- basi, kami juga lekas masuk menapaki hutan pinus yang lumayan lebat di sisi kanan serta kiri.

Atmosfer fresh langsung aku rasakan. Sepoi angin yang berembus kokoh pula jadi sahabat setia dalam menapaki tempat wisata ini. Rekan aku memohon buat menyudahi di tanah luas yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Suatu foto juga aku ambil buat mengabadikan momen tersebut. Saking luasnya tanah luas tersebut, aku rasa tempat ini dapat dijadikan tempat buat kemah. Sembari membakar jagung serta bernyanyi bersama, tentu aktivitas itu terasa seru sekali.

Lepas puas difoto, kami berjalan mengarah ke bagian hutan yang menanjak. Di mari, pepohonan pinus yang berkembang mulai tidak sering. Di antara pohon- pohon tersebut, terdapat sofa dari kayu pinus yang ditata sedemikian rupa. Kami duduk sebentar sambil menghela napas.

Di tengah posisi santai itu, kami memandang tulisan yang dipajang pas di badan pohon- pohon pinus tadi. Membaca sekilas, kami jadi tertawa sendiri. Tulisan- tulisan itu bernada sindiran untuk kami yang masih jomblo. Entah sindiran tentang jodoh yang belum ketemu, undangan dari si mantan yang makin banyak yang tiba, sampai persoalan kapan kira- kira mengakhiri masa lajang.

Tulisan itu berpadu dengan sebagian spot gambar lain misalnya halaman menawan yang dibentuk di sekitar hutan pinus. Buat menghayati hendak pesan dari tulisan tersebut, kami terencana difoto dengan muka masam. Entah, apakah nantinya gambar ini hendak berakibat panjang. Yang tentu, kami sangat menikmati panorama alam unik itu.

Kami terus berjalan di lingkungan halaman yang nyatanya lumayan luas itu. Terdapat tempat difoto semacam lambang cinta yang sangat sesuai digunakan untuk yang telah berpasangan. Kemudian, kami pula menciptakan suatu kolam renang yang lumayan luas. Sepinya atmosfer di zona hutan pinus tadi warnanya berkontradiksi dengan kolam renang ini. Warnanya, wisatawan lebih bahagia menghabiskan waktu buat berenang bersama putra- putri mereka di mari. Sebab kami tidak bernazar berenang, hingga kami juga mencari tempat lain.

Jejeran warung bambu yang dibentuk di dekat kolam renang jadi persinggahan kami berikutnya. Rekan aku yang kelaparan memesan semangkuk bakso panas. Aku lebih memilah buat membeli gorengan dengan harga 500 rupiah saja per buah. Kami menyantap santapan itu sembari ditemani suara jangkrik yang masih saja bernyanyi serta desiran angin yang sejuk.

Kami masih mengeksplorasi tempat itu selepas santapan yang kami santap habis. Nyatanya, masih terdapat wahana flying fox yang menguju adrenalin di mari. Wahana ini pula sekalian berperan bagaikan rumah tumbuhan yang dapat dijadikan tempat difoto. Untuk aku, tempat wisata murah meriah ini sangat layak didatangi. Terlebih, kebersihannya yang sangat terpelihara serta tidak banyak sampah berceceran.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*